hem...setiap hari selalu ada saja hiburan yang ditampilkan mulai dari festival reog,kirab pusaka,konser musik dan seterusnya.Pada perayaan grebeg syuro seperti ini bisa menjadi wadah berkumpulnya para seniman reog eh yang ternyata enggak cuman di Ponorogo saja ada mereka yang datang dari luar pulau,juga mungkin sebagai ajang memperkenalkan budaya Ponorogo.
Grebeg suro sebenarnya kalo dilihat adalah bentuk perayaan menyambut pergantian tahun,yang konon ini katanya adalah budaya ponorogo,
namun jika kita mau telusuri lagi lebih dalam perayaan menyambut pergantian tahun bukanlah budaya ponorogo tetapi budaya orang Romawi yang jelas sangat bertentangan dengan budaya kota ponorogo yang dimana kotanya disana sini ada pondok pesantrennya.Budaya perayaan ini kemudian dilestarikan bahkan didukung pemerintah dengan dalih mencintai budaya ponorogo, enggak tanggung-tanggung dana daerahpun dikeluarkan begitu besar,ditahun 2016 ini saja menghabiskan 2,3 milyar.... terlebih lagi bisa beralasan dengan adanya event seperti ini pere ekonomian rakyat meningkat dengan berjualan.Dana APBD yang semestinya digunakan untuk kesejahteraan rakyat berubah jadi modal bisnis yang aneh sebagian pembeli bisnis itu adalah rakyat masyarakat ponorogo sendiri,begitulah kapitalisme sob,cara apapun asal ngasilkan duit bakal ditempuh.
Anehnya sebagai warga ponorogo tidak begitu banyak yang peduli soal ini,yang terpenting ini adalah sebuah hiburan,enggak peduli uang mana yang di pakai,enggak peduli ngeluarin uang berapa buat nonton toh ini uang sendiri.Harap maklum saja masalah negeri ini terutama kota ponorogo sudah begitu banyak karena saking begitu banyak dan tak kunjung menemukan solusi setidaknya perayaan grebeg suro ini bisa menjadi hiburan sesaat mengobati segala permasalahan-permasalahan yang ada,tapi sampe kapan?


No comments:
Post a Comment